Rabu, 25 Mei 2016

SUATU KETIKA DI SEBUAH RUANG SIDANG

--Suatu Ketika di Sebuah Ruang Sidang--

Ali bin Abi Thalib: "kudapati barangku berada ditangan orang ini (non muslim). Barang itu jatuh pada malam ini di tempat ini. Padahal aku tidak menjual kepadanya tidak pula menghibahkannya"

SANG HAKIM: "Bagaimana jawaban anda?"

Non Muslim: "Barang ini milikku. Dia berada di tanganku. Tapi aku tidak menuduh Amirul Mukminin berdusta."

SANG HAKIM menoleh ke Ali seraya berkata: "Aku tidak meragukan kejujuran anda wahai amirul mukminin, tapi harus ada dua orang saksi untuk membuktikan tuduhanmu."

Ali berkata: "Baik, aku punya dua orang saksi, pembantuku Qanbar dan putraku Hasan."

SANG HAKIM: "Tetapi kesaksian anak bagi ayahnya tidak berlaku, wahai Amirul Mukminin."

Ali: Apakah anda tidak pernah mendengar bahwa RasuluLlah ﷺ bersabda bahwa Hasan-Husein pemuka para pemuda penduduk surga?

HAKIM: "Aku mengetahui hal itu, wahai amirul mukminin. Hanya saja kesaksian anak untuk ayahnya tidak berlaku."

Mendengar jawaban SANG HAKIM, Ali berpaling kepada si non muslim seraya berkata, "Ambillah barang ini, sebab aku tidak punya saksi lagi selain keduanya."

Berkaca-kaca mata si non muslim kemudian berkata: "Aku bersaksi bahwa barang itu milikmu ya amirul mukminin. Ya Allah, amirul mukminin menghadapkan aku pada hakimnya, dan hakimnya memenangkan aku (meskipun non muslim). Kuakui bahwa agama yang mengajarkan seperti ini adalah agama yang benar dan suci."

Seketika juga ia bersyahadat dan menjadi muslim yang taat.

Duhai, kisah ini pastinya sering kita dengar. Namun siapakah SOSOK SANG HAKIM 'Adil yang *Berani* memutuskan yang tepat meski yang disidangkan adalah pemimpinnya?

SANG HAKIM itu adalah SYURAIH BIN AL-HARITS dari Yaman kota Al-Kindi.

BERSABAR TERHADAP UJIAN ALLAH

Biar semanget lagi hari ini !

Ahmad bin Miskin, Seorang ulama abad ke-3 Hijriah dari kota Basrah, Irak, Bercerita :

Aku pernah diuji dengan kemiskinan pada tahun 219 Hijriyah. Saat itu aku sama sekali tak memiliki apapun sementara harus menafkahi seorang istri dan seorang anak. Lilitan rasa lapar yang hebat terbiasa mengiringi hari-hari kami

Maka aku bertekad menjual rumah dan pindah ke tempat lain. Akupun mencari orang yang bersedia membeli rumahku

Kemudian bertemulah aku dengan sahabatku Abu Nashr dan kuceritakan kondisiku. Tapi dia malah memberi 2 lembar roti isi manisan “Berikan makanan ini kepada keluargamu.” katanya

Di tengah perjalanan pulang aku berpapasan dengan seorang wanita fakir bersama anaknya. Tatapannya jatuh di kedua lembar rotiku. Dengan memelas dia memohon

“Tuanku, Anak yatim ini belum makan dan tak kuasa terlalu lama menahan rasa lapar yang melilit. Tolong beri dia sesuatu yang bisa dia makan. Semoga Allah merahmati Tuan.”

Sementara itu si anak menatapku polos dengan tatapan yang takkan kulupakan sepanjang hayat. Tatapan matanya menghanyutkan fikiranku dalam khayalan ukhrowi, Seolah-olah surga turun ke bumi, Menawarkan dirinya kepada siapapun yang ingin meminangnya dengan mahar mengenyangkan anak yatim miskin dan ibunya ini

Tanpa ragu sedetikpun kuserahkan semua yang ada ditanganku. “Ambillah, Beri dia makan”

Demi Allah, Waktu itu tak sepeserpun dinar atau dirham kumiliki. Sementara di rumah, Keluargaku sangat membutuhkan makanan itu

Spontan, Si ibu tak kuasa membendung air mata dan si kecilpun tersenyum indah bak purnama

Kutinggalkan mereka berdua dan kulanjutkan langkah gontaiku, Sementara beban hidup terus bergelayutan dipikiran

Setiba di sebuah tempat, Sejenak kusandarkan tubuh ini di sebuah dinding sambil terus memikirkan rencanaku menjual rumah. Dalam posisi seperti itu tiba-tiba Abu Nashr dengan kegirangan mendatangiku

“Hei Abu Muhammad...! Kenapa kau duduk duduk di sini sementara limpahan harta sedang memenuhi rumahmu ?!”

“Subhanallah...! Dari mana datangnya ?”

“Tadi ada pria datang dari Khurasan. Dia bertanya-tanya tentang ayahmu atau siapapun yang punya hubungan kerabat dengannya. Dia membawa banyak angkutan barang penuh berisi harta !”

“Terus ?”

“Dia itu dulu saudagar kaya di Bashroh ini. Kawan ayahmu. Ayahmu pernah menitipkan kepadanya harta yang telah ia kumpulkan selama 30 tahun. Lantas dia rugi besar dan bangkrut. Semua hartanya musnah termasuk harta ayahmu

Lalu dia lari meninggalkan kota ini menuju Khurasan. Di sana kondisi ekonominya berangsur-angsur membaik. Bisnisnya melejit sukses. Kesulitan hidupnya perlahan lahan pergi, Berganti dengan limpahan kekayaan

Lantas dia kembali ke kota ini, Ingin meminta maaf dan memohon keikhlasan ayahmu atau keluarganya atas kesalahannya yang lalu

Maka sekarang dia datang membawa seluruh harta hasil keuntungan niaganya yang telah dia kumpulkan selama 30 tahun berbisnis. Dia ingin berikan semuanya kepadamu, Berharap ayahmu dan keluarganya berkenan memaafkannya.”

Ahmad bin Miskin melanjutkan ceritanya :

“Kalimat puji dan syukur kepada Allah berdesakan meluncur dari lisanku. Sebagai bentuk syukur segera kucari wanita faqir dan anaknya tadi. Aku menyantuni dan menanggung biaya hidup mereka seumur hidup

Aku pun terjun di dunia bisnis seraya menyibukkan diri dengan kegiatan sosial, Sedekah, Santunan dan berbagai bentuk amal salih. Adapun hartaku, Terus bertambah melimpah ruah tanpa berkurang

Tanpa sadar, Aku merasa takjub dengan amal salihku. Aku merasa telah mengukir lembaran catatan malaikat dengan hiasan amal kebaikan. Ada semacam harapan pasti dalam diri bahwa namaku mungkin telah tertulis di sisi Allah dalam daftar orang orang shalih

Lalu pada suatu malam aku tidur dan bermimpi. Aku lihat diriku tengah berhadapan dengan hari kiamat. Aku juga lihat manusia bagaikan ombak, Bertumpuk dan berbenturan satu sama lain

Aku juga lihat badan mereka membesar. Dosa-dosa pada hari itu berwujud serta berupa, Dan setiap orang memanggul dosa-dosa itu masing-masing di punggungnya

Bahkan aku melihat ada seorang pendosa yang memanggul di punggungnya beban besar seukuran kota Basrah, Isinya hanyalah dosa-dosa dan hal-hal yang menghinakan

Kemudian timbangan amal pun ditegakkan, Lalu tiba giliranku untuk perhitungan amal

Seluruh amal burukku ditaruh di salah satu sisi timbangan, Sedangkan amal baikku di sisi timbangan yang lain. Ternyata...

Amal burukku jauh lebih berat daripada amal baikku... !

Tapi perhitungan belum selesai. Mereka mulai menaruh satu persatu berbagai jenis amal baik yang pernah kulakukan

Namun alangkah ruginya aku. Ternyata dibalik semua amal itu terdapat NAFSU TERSEMBUNYI. Nafsu tersembunyi itu adalah riya, Ingin dipuji, Merasa bangga dengan amal shalih. Semua itu membuat amalku tak berharga. Lebih buruk lagi, Tidak satupun amalku yang lepas dari nafsu-nafsu itu

Aku putus asa

Aku yakin aku akan binasa
Aku tidak punya alasan lagi untuk selamat dari siksa neraka

Tiba-tiba aku mendengar suara “Masihkah orang ini punya amal baik ?”

“Masih...”, Jawab suara lain. “Masih tersisa ini.”

Aku penasaran, Amal baik apa gerangan yang masih tersisa ? Aku berusaha melihatnya

Ternyata... Itu HANYA dua lembar roti isi manisan yang pernah kusedekahkan kepada wanita fakir dan anaknya

Habis sudah harapanku...
Sekarang aku benar benar yakin akan binasa sejadi-jadinya

Bagaimana mungkin dua lembar roti  ini menyelamatkanku, Sedangkan dulu aku pernah bersedekah 100 dinar sekali sedekah (100 dinar = +/- 425 gram emas = Rp 250 juta) dan itu tidak berguna sedikit pun. Aku merasa benar-benar tertipu habis-habisan

Segera dua lembar roti itu ditaruh di timbanganku. Tapi tak kusangka, Timbangan kebaikanku bergerak turun sedikit demi sedikit dan terus bergerak turun sampai-sampai lebih berat sedikit dibandingkan timbangan kejelekanku

Tak sampai disitu, Masih ada lagi amal baikku. Yaitu air mata wanita faqir itu yang mengalir saat aku berikan sedekah. Air mata tak terbendung yang mengalir kala terenyuh akan kebaikanku yang kala itu lebih mementingkan dia dan anaknya dibanding keluargaku

Sungguh tak terbayang, Saat air mata itu ditaruh timbangan baikku semakin turun dan terus memberat. Hingga akhirnya aku mendengar suatu suara berkata

“Orang ini selamat dari siksa neraka !”

By : Ust. Abu Umar Abdillah, dipublikasikan Emir Wagaring Front Fathi Nasrullah Attamimi

Jazakumullah khairal jaza
Allah Yubaarik fiikum wa fii maalikum.

DOKTER-PRENEUR! DOKTER LULUSAN UGM YANG JADI PEMBERSIH SEPATU

DOKTER-PRENEUR! DOKTER LULUSAN UGM YANG JADI PEMBERSIH SEPATU

Dari hobi membersihkan sepatu, dokter muda ini punya 20 cabang usaha Shoes And Care hingga di Singapura!

Sudah 4 bulan saya tidak siaran Kongkow Bisnis di Geronimo FM Jogja, malam tadi saya diundang lagi buat membredel tamunya di Acara Kobis Live di Dixie. Menarik kali ini.. Saya harus berdecak kagum dengan keuletannya! Baca obrolannya dibawah ini.. Akan bikin kepalamu meletup!!

"Nama Saya Tirta Hudhi, umur saya 25 tahun mas.. Saya tukang bersih-bersih sepatu, karena itu hobi saya sejak dulu. Seneng kalo ngelihat sepatu yang bersih. Pekerjaan sampingan saya sebagai dokter umum di RSA UGM di Ringroad Utara Jogja, rencana mau ambil spesialis bedah juga.. "

Whoootttt!! *saya mendelik
"Bentar-bentar! Dokter beneran kamu ini? Bukan dokter bedah sepatu... "

"Beneran mas.. Asli saya Karanganyar (Solo coret hehe) 3,5 tahun saya kuliah kedokteran di UGM dari tahun 2009, lanjut koas selesai tahun 2015, langsung kerja di rumah sakit. Dulu waktu ngekost di daerah Pogung saya seneng bener bersih-bersih sepatu, terus saya pajang di depan kamar kost, eh banyak temen-temen yang nitip, lama-lama makin banyak. Ada temen yang usul, sekalian aja kamu bisnisin dapet duit. Eh bener juga ya.. Pas waktu itu saya harus membeli buku-buku kedokteran yang mahal, gak mau jadi beban orang tua saya harus membeli buku-buku itu sendiri. Jadi kalo pulang kuliah jam 3 sore, saya di kost membersihkan sepatu pesanan, sampai jam 9 malam, lanjut belajar deh!"

"Wow! Gak gengsi kamu ini.. Mahasiswa kedokteran jadi tukang bersih-bersih sepatu?"

"Ngapain juga gengsi mas, dapat uang halal kok. Sampai akhirnya saya online-kan di forum jual beli kaskus, pesanan makin banyak bahkan dari luar kota. Sepatu dikirim ke jogja, saya dibersihan terus dikirimkan lagi. Modal pertama hanya 400 ribu saja, buat beli alat-alatnya. Tahun berikutnya saya mendapat investor dari kawan ayah saya, 25 juta bikin toko pertama di alun-alun kidul Jogja. Dalam 3 bulan sudah balik modal, saya bagi hasil 20% untuk investornya."

"Wuuuik... Dari bersih-bersih sepatu bisa dapet 8 jutaan dong sebulan!"

"Saya mainkan di semua sosial media, pesanan jasa makin banyak, pernah kami dapat kiriman sepatu dari Bali, harganya itu 120 juta.. Sepatu mahaaal.. Padahal ongkos membersihkannya hanya 100ribu, dia puas akhirnya rutin jadi pelanggan kami. Satu outlet sekarang ada 2-3 karyawan. Saya mulai ekspansi bertahap ke berbagai kota, Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Medan, Tangerang, Pelembang hingga ke Singapura. Total ada 20 outlet saat ini dengan 85 karyawan. Outlet yang di Singapore karyawan saya juga orang sana.. Bukan dari Indonesia"

"Dalam 3 tahun bisnismu bisa cepat ekspansinya, kamu mengajak investor atau dengan utang?"

"Dari 20 outlet yang saya miliki 75% milik saya sendiri, 25% join dengan investor. Saya tidak pernah mengembangkan usaha dengan utang mas. Tiap dapat untung dari outlet-outlet saya putar terus untuk membuka cabang baru. Ayah saya mengajarkan jangan pernah membuka usaha dengan utang.. Itu hanya akan memberatkan, padahal ayah saya dulu kerjanya di BPR" lanjut Tirta sambil tertawa..

"Kamu masarin jasa kamu lewat sosial media?"

"Iya mas, all sosmed kami pakai. Kami di Shoes And Care pernah dapat penghargaan dari Google Singapore sebagai salah satu jasa yang paling banyak dicari di internet. Karena hasil kerja kami bagus dan memuaskan, ada perusahaan di Italy yang merekomendasikan kami menjadi rujukan untuk perawatan sepatu di Asia Tenggara. Kamu juga kaget pernah dapat kiriman sepatu dari Belanda. Ongkos bersihinnya 10 Euro, ongkos kirimnya 40 Euro. Lebih mahal ongkirnya, Tapi orangnya puas.. Seminggu beres sepatu kami kirimkan lagi ke Belanda"

"Muantab.... target kamu apa ke depan?"

"MEA sudah terbuka mas, saya punya impian Outlet Shoes And Care akan ada di Thailand, Vietnam, Malaysia, Brunei dan negara-negara lainnya, tapi saya tetap jadi dokter bedah di Jogja saja.."

Pasti bisaaa Tirtaaa!

Saya bertanya lagi di jeda waktu, ketika tidak on air diselingi lagi live dari band disana.

"Dengan 20 outlet, produk jasa.. Kamu pasti mampu dong beli mobil cash sendiri sekarang?"

"Mampu mas.. "

"Sudah beli? Mobil apa?"

"Belum mas.. Saya masih pakai Honda Supra 125 kemana-mana, uangnya mending saya tabung buat buka outlet lagi nantinya.."

Hehehe!! Tamparan kerasssss dari mas Dokter buat yang sok gaya beli mobil kreditan! Yang sudah sukses dan mampu beli  cash aja menunda kesenangan, daripada yang maksa beli demi pamer dan gaya hidup tapi habis itu pusiiiiiing mikir cicilan!

Ok mas Dokter!! Suksesss terus untukmu!
MAINKAN!!! Yang merduuuu... 🎶🎼

Salam,
@Saptuari.
Copas dari grup alumni. pengalaman yg menginspirasi.