Jumat, 18 September 2015

Rizki itu milik allah

Na'uudzu billaah tsumma na'uudzubillaah
From Allah to Allah :

Rezeki Itu Milik Allah

by Leila Hana

"Saya nggak mau jd ibu rumah tangga saja.
Kalau suami meninggal atau kita bercerai, gimana?
Siapa yg ksh makan sy dan anak2?
Istri itu hrs mandiri finansial supaya bs punya uang utk jaga2 kalau ada apa2 dg suami."

Seketika, kalimat itu buyar kala sy berhadapan dg seorang wanita berusia 47 thn yg datang ke rumah sy utk mengisi pengajian.

Wanita bersahaja itu datang jauh2, ckp jauh dr  komplek perumahan tmp t tinggal sy, utk memberi pengajian secara gratis.
Ingat, gratis lho....
Nggak ada bayaran sepeser pun kecuali sajian makan siang yg sy berikan.
Dia datang utk menggantikan guru ngaji sy yg berhalangan.
Sambil menunggu teman2 lain, kami ngobrol2

"Coba tebak, anak sy berapa, Bu?" tanyanya, ketika kami sedang ngobrol soal anak2.
Sy sedikit mengeluhkan kondisi rumah yg berantakan krn  anak2 nggak bs diam, lalu dia memaklumkan. Namanya jg anak2.
Dia sdh berpengalaman krn anaknya lbh banyak dr sy.
"Ehm... empat?" (pikir saya, paling2 cm selisih satu).
"Masih jauh...."
"Tujuh...."
"Kurang... yg benar, delapan."
Mata sy membelalak.

Masya Allah! DELAPAN?!
"Itu msh  kurang, Bu. Ustazah Yoyoh (almarhumah Yoyoh Yusroh, mantan anggota DPR) saja anaknya 13.
Jadi, sy ini belum ada apa2nya," katanya, merendah.

Setelah itu, mengalirlah cerita2nya mengenai anak2nya smp  teman2 sy datang dan acara mengaji pun dimulai.
Di sela pengajian, wanita itu bercerita mengenai keluarganya.

Dr situ saya baru tahu kalau suaminya sdh meninggal dunia!
Meninggal krn kecelakaan motor, meninggalkan istri dan 8 anak, yang terkecil berusia 2,5 tahun dan sang istri, ya... wanita itu... seorang IBU RUMAH TANGGA.

Ibu rumah tangga di sini maksudnya nggak kerja kantoran, tp jg bukan pengangguran. Beliau aktif mengisi pengajian.
Lalu, bagaimana kehidupannya setelah suaminya meninggal?
Beliau nggak punya gaji, nggak kerja kantoran.
Coba, gimana?
Apa beliau lalu sengsara dan anak2nya putus sekolah?
No. no, no....

Kalau sy mengingat kalimat pembuka di atas kok kayaknya mustahil ya seorang ibu yg nggak bekerja dan suaminya meninggal dunia, bs bertahan hidup dg 8 anak dan anak2nya bs tetap kuliah.
Mustahil itu... NGGAK MUNGKIN!

"Bagi Allah, nggak ada yg nggak mungkin, Bu.
Asal kita percaya sama Allah.
Allah yg ksh rezeki, kan?
Percaya saja sama Allah.
Sy cm yakin bhw smua yg sy dapatkan slama ini adalah krn kebaikan2 sy dan suami semasa hidup. Saya cm berbagi pengalaman ya, Bu, bukan mau riya.

Memang, suami sy dulu itu orgnya pemurah.
Klau ada yg minta bantuan, dia akan kasih walaupun dia uangnya pas2an. Alhamdulillah, Allah kasih ganti.
Sewaktu suami msh hidup, kami hidup sederhana.
Rezeki suami itu dibagi ke orang2 jg, padahal anak kami ada 8.
Suami nggak takut kekurangan....."

Kami menahan napas.....

"Hingga suami sy meninggal dunia... uang duka yg kami dapatkan itu...
Masya Allah... jumlahnya 100 juta.
Padahal, suami saya itu biasa2 saja, bukan org penting.
Uang itu langsung dibuat biaya pemakaman, tabungan pendidikan anak, dan sisanya renovasi rumah yg mau ambruk."

Dengar uang 100 juta dr uang duka saja, saya sdh kagum.

"Saat renovasi rumah, sy serahkan saja ke tukangnya.
Dia bilang, uangnya kurang.
Sy lillahi ta'ala saja.
Yg penting atap rumah ngga ambruk, krn memang kondisiny sdh  memprihatinkan. Khawatirnya anak2 ketimpa atap....."

Sy membayangkan, keajaiban apa lg yg didapatkan oleh wanita itu?

"Nggak disangka. Begitu orang2 tau kalau sy sedang renovasi rumah, mrk  menyumbang.
Bukan ratusan ribu, tp puluhan juta!
Smp terkumpul 100 juta lg dan rumah sy spr bs dilihat sekarang....
Sampai hari ini, sy msh dpt transferan uang dr  mana2, Bu-Ibu.
Sy nggak tau dr siapa aja krn  mrk nggak bilang.
Sy  jg udh nggak pernah beli beras lg  sejak suami meninggal.
Selalu ada yg kasih beras."

Duh, nggak bs nahan airmata deh jadinya....
Apa rahasianya?
"Berbuat baik kpd  siapa saja, sekecil apa pun.
Insya Allah ada balasannya.
Rezeki itu milik Allah.
Kalau Allah berkehendak, Dia akan kasih dr mana pun asalnya...." tutupnya.

Rezeki itu milik Allah, siapa pun tdk boleh takabur.
Bekerja bukanlah sarana menyombongkan diri bhw hidup kita bakal terjamin krn bekerja.
Yg menjamin hidup kita adalah Allah.
Bekerja diniatkan utk ibadah.
Pembuka rezeki bs datang dr mana saja, salah satunya dr  berbuat kebaikan sekecil apa pun.

Ucapan, "Kalau suami meninggal atau bercerai, siapa yg kasih makan sy  dan anak2?" itu sama saja dg sirik, atau menduakan Allah.

Menganggap diri kita super, dg  kita bekerja, maka rezeki terjamin.
Padahal, Allah yg kasih rezeki.
Jika dulu Allah kasih rezeki melalui suami, besok Allah kasih lewat jalan lai[disingkat oleh WhatsApp]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar